Ah Rani, padahal baru kemarin kamu berikan surat ini buatku...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Gue capai Dee...Hari semakin sore...
Kenapa burung-burung itu kembali pulang ke sarangnya? Apa karena 'kembali' itu adalah pasti?
Dyera, sahabatku yang manis...
Bagaimana puncak di Gunung Rinjani? Indah-kah? Bagaimana dengan ilalang disana? Tumbuh suburkah? Atau malah mengering?
Halaman rumah sakit sore ini, rasanya beda dari hari-hari biasa...
Di sini, daun-daun banyak yang gugur...
Mungkin hampir usai masanya. Hampir usai. Mungkin senja ini sudah dekat dengan saatnya bagiku untuk menggenapkan tidur panjang. Semua orang akan mati bukan?
Nanti, sering-seringlah berkunjung ke rumah gue. Walau mungkin gue sudah pindah di rumah yang jauh lebih kecil, tapi gue bakal tetep rindu sama kalian.
Jangan lupa sama gue ya...
Terakhir, sebelum gue bener-bener kalah sama penyakit ini, gue cuma pengen bilang: Gue bahagia pernah punya sahabat seperti kalian bertiga...
Satu hal yang perlu dicatet, gue boleh kalah, tapi gue ngga akan nyerah sama penyakit ini. Gue ngga mau mati sebagai pecundang. Mati??? Ah, ada-ada aja... Gue nggak akan pernah mati kan Dee?!
Gue selalu hidup dalam hati kalian bertiga bukan?!
Seandainya besok gue harus pergi, nanti malam gue akan coba menghemat nafas ini sampai besok pagi, saat elo membawa kemenangan itu buat gue..."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------




